Karya: Sheena
Ilustrasi: Rei

Nusa Penida: Akan Ke Mana?

Sheena Abigail (0315160016)

 

Tandusnya lahan desa ini cukup mudah terlupakan dengan eksotisme pantai dan lautnya.

Seorang kakek yang sedang menggores-gores tanah sembari mengamati dua ekor sapi miliknya.

“Kek, lahan ini luas sekali, kok gak dijual aja?”

“Ya kalau dijual, siapa yang ngurusin?” ia membalas.

Kerutan wajahnya mendadak berubah tampak risau

 I. Pendahuluan

Terdapat 3229 hektar lahan jagung yang dipanen pada 2011 di Nusa Penida, dan tersisa 1681 hektar jagung yang dipanen pada 2015.[1] Demikian pula ubi yang dipanen pada 2011 sebanyak 1670 hektar menurun signifikan menjadi hanya 751 hektar. Alih fungsi lahan kian agresif untuk mengembangkan fasilitas pariwisata dan membuka lapangan kerja baru menggantikan pekerjaan utama sebelumnya, bertani.[2]

Keadaan di atas menawarkan kesempatan baru sekaligus sangat menggetirkan. Menawarkan kesempatan baru karena masyarakat diberi kesempatan untuk membuka bisnis baru; mencari pekerjaan yang baru dalam bidang pariwisata. Namun di saat yang sama sangat mengkuatirkan karena membabibutanya alih fungsi lahan yang digunakan untuk pariwisata, menguras cepat lahan untuk pangan akan berkurang. Dengan hasil jagung dari 3229 hektar dan 1760 hektar ubi saja masyarakat Nusa Penida masih kekurangan pangan,[3] sehingga masih menggantungkan permintaan pada suplai sembako di Bali.[4]

Ini seakan mengingatkan kembali cuplikan sejarah yang dituliskan Andro Linklater, sejarawan Eropa dalam bukunya Owning the Earth. Andro Linklater menunjukkan tragisnya konflik yang ditimbulkan ketika kepemilikan pribadi dianggap wajar. Dalam buku karangan Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx, teori klasik Karl Marx menunjukkan bagaimana seramnya keterasingan yang dialami manusia ketika pembagian kerja dan kepemilikan pribadi diterapkan. Tulisan ini mencoba menganalisis fenomena kepemilikan lahan dan pekerjaan di Nusa Penida dari perspektif sosiologi klasik. Analisis ini menjadi penting guna meninjau kembali relevansi teori klasik pada perubahan masyarakat di Nusa Penida saat.

 II. Pekerjaan, Kepemilikan dan Alienasi Manusia

Dalam buku berjudul Naskah-naskah Ekonomis-Falsafi, atau lebih dikenal dengan Naskah-naskah Paris, Karl Marx menuliskan bahwa perbedaan manusia dengan binatang adalah hakikatnya. Manusia secara hakiki bekerja secara bebas dan universal; sementara, binatang bekerja di bawah desakan naluri untuk mencukupi kebutuhannya.[5]

Manusia bekerja tidak semata-mata berdasarkan kebutuhan fisik. Dalam hal inilah manusia disebut bekerja secara bebas. Selain bebas, ia juga dapat membuat sesuatu dari apapun (manusia bekerja secara universal). Saat bekerja, manusia melakukan objektivitas, yaitu mengolah objek dari alam dan memberikan bentuk tersendiri pada objek tersebut.[6] Misalnya, manusia membangun rumah dari kayu dan batu demi kepuasan diri dan tidak menghuni rumah tersebut; atau seniman menciptakan cincin dari perak, bukan karena fisiknya membutuhkan cincin.  Sementara binatang bekerja hanya untuk memproduksi apa yang dibutuhkan bagi dirinya atau keturunannya pada saat itu. Misalnya, lebah yang membuat sarang hanya saat koloninya membutuhkan sarang.

Perbedaan manusia dan binatang inilah yang menjadi dasar kegelisahan Marx saat mendalami kehidupan buruh industri di Perancis pada 1864, ketika ia diangkat menjadi pengacara bagi Asosiasi Pekerja Internasional.[7] Mesin-mesin produksi menggantikan pekerjaan manusia, manusia kehilangan pekerjaan. Ironisnya, manusia menjadi tidak punya daya tawar lagi dihadapan industri. Mereka bekerja hanya untuk sejumlah uang guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Padahal, melalui pekerjaan, manusia perlu melakukan objektivitas dan mengekspresikan hakikat pekerjaannya yang bebas dan universal.

Untuk menyentuh masalah ini, Marx mencoba menguraikan tiga tahap umat manusia. Tahap pertama adalah ketika manusia purba belum membagi kerja dan hidup bersama, melakukan hal yang sama. Tahap kedua, saat pembagian kerja dilakukan dan manusia terasing dari dirinya dan sesamanya. Tahap ketiga, yaitu tahap kebebasan di saat hak milik pribadi dihapuskan.[8]

Ada pergeseran dari satu tahap ke tahap lainnya. Pergeseran tahap pertama ke tahap kedua menujukkan bahwa Marx sadar bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia bergantung pada hasil pekerjaan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya karena mustahil untuk menghasilkan semua yang dibutuhkan sendiri.[9] Sementara itu, pergeseran dari tahap kedua ke tahap ketiga membuktikan bahwa Marx melihat bahwa tahap kedua masih bermasalah, dan tahap ketiga adalah tujuan ideal.

Letak masalah pada tahap kedua adalah keterasingan manusia dari hakikatnya. Pada tahap ini, efisiensi kerja dalam proses produksi mendorong sistem pembagian kerja. Pembagian kerja dilakukan untuk meningkatkan efisiensi kerja kelompok dalam menjamin kebutuhan sehari-harinya. Para wanita terbagi secara alami karena mengandung dan menyusui anak, maka dipekerjakan di sekitar tempat tinggal kelompok. Sementara, para pria ditugaskan untuk berburu makanan, dan beberapa tinggal bersama wanita untuk membuat kapak atau panah. Orang-orang yang tampak pandai akan tinggal untuk menjadi pemimpin kelompok. Dari pembagian kerja, kelas buruh dan kelas majikan terbentuk.[10]

Bagi Marx, pada tahap kedua inilah awal terjadinya keterasingan (alienasi) manusia. Pembagian kerja, di satu sisi mendorong efisiensi kerja, tetapi di sisi lain membatasi kebebasan manusia dan hakikatnya yang universal dalam melakukan pekerjaan. Dalam keadaan seperti ini, pekerjaan yang seharusnya menggembirakan karena menjadi sarana perealisasian diri manusia dengan objektivitas malah mengasingkan manusia dari dirinya sendiri dan orang lain. Manusia, layaknya binatang, bekerja semata-mata untuk mencukupi kebutuhan hidup.[11] Diri manusia menjadi miskin karena tidak mengembangkan diri, malah bekerja atas paksaan.[12]

Selain disebabkan oleh pembagian kerja, Marx menunjukkan bahwa keterasingan dalam pekerjaan adalah akibat sistem hak milik pribadi. Hak milik pribadilah yang menyebabkan terpecahnya umat manusia menjadi kelas pekerja dan pemilik. Saat bekerja, seorang pekerja terasing dari produknya. Produknya bukan lagi hasil objektivitas, tetapi tuntutan dari pemilik industri. Bahkan, seorang pekerja tidak memiliki produk, karena produknya menjadi milik pabrik.[13]

Selain terasing dari dirinya sendiri, seorang manusia juga akan terasing dari sesamanya karena sifat sosial dalam dirinya sudah terasing saat hakikatnya tidak terealisasikan. Adanya keterasingan antar sesama menyebabkan terbaginya masyarakat dalam sistem hak milik pribadi. Ada yang tergolong kelas pekerja dan kelas pemilik.[14]

Penggolongan masyarakat menjadi kelas pekerja dan pemilik kemudian memicu perpecahan kepentingan masyarakat. Kelas pemilik mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, dan kelas pekerja ingin mendapatkan upah setinggi mungkin.[15] Terpecahnya kepentingan dan masyarakat oleh kepemilikan pribadi menyebabkan hubungan antar manusia bersifat persaingan. Para pemilik bersaing untuk berebut pasar dan para pekerja berebut pekerjaan.

Lebih ironis lagi, manusia kemudian bertindak atas pertimbangan untung-rugi. Seperti saat seorang mengamati karya seni yang terpajang di galeri terkemuka, nilai estetik dan keindahan tidak diperhatikan, melainkan berapa besar untung yang akan didapatkan jika seseorang berinvestasi atau membeli lukisan itu. Selain itu, ketika melihat seseorang kelaparan, seorang penjual makanan tidak akan memberikan begitu saja jika tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Dari contoh tersebut tampak bahwa sikap manusia menjadi egois karena hanya akan membantu jika mendapatkan keuntungan.[16]

Kisah tragis tentang alienasi manusia tidak berakhir begitu saja dalam pemikiran Marx. Marx menawarkan sebuah hubungan antar manusia tanpa keterasingan dan keegoisan. Hubungan seperti itu bagi Marx, hanya terjadi dalam hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan. Saat mencintai, laki-laki maupun perempuan secara spontan ingin memenuhi kebutuhan pihak yang lain; kebahagiaan pihak lelaki juga merupakan kebahagiaan pihak perempuan. Saat memberikan hadiah kepada pihak yang lain, tidak ada tuntutan untuk membayar balik.[17]

Inilah cita-cita Marx, sekaligus menjadi jalan keluar yang ditawaran untuk lepas dari keterasingan manusia, bahwa hak milik pribadi harus dihapuskan. Tetapi Marx memandang bahwa hak milik pribadi tidak bisa dengan seenaknya dihapuskan oleh manusia karena hak kepemilikan pribadi telah dibangun oleh nenek moyang sejak dulu kala.[18] Apa yang dapat dilakukan sekarang adalah melawati tahap kedua untuk menuju tahap ketiga, yakni tahap kebebasan ketika hak milik pribadi dihapuskan.[19]

III. Perspektif Bhagavad Gita Tentang Manusia dan Pekerjaan

 

Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembah-penyembah membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan.

(Bhagavad-Gita sloka 2.51)

 

Agama dan budaya dalam masyarakat penganut Hinduisme tidak mudah dipisahkan. Agama Hindu dianut lebih dari sekedar agama, melainkan juga adalah cara hidup dan budaya bagi semua pemeluknya.[20] Masyarakat di Bali yang mayoritas beragama Hindu dan menjunjung ajaran Bhagavad-Gita dalam memandang hidup.

Guna memahami perspektif Hinduisme terhadap manusia dan pekerjaan, referensi utama yang dapat diacu adalah Bhagavad-Gita. Berikut beberapa kutipan dari Bhagavad-Gita tentang kerja:

Semua orang dipaksakan bekerja tanpa berdaya,… karena itu, tiada seorangpun yang dapat menghindari berbuat sesuatu, bahkan selama sesaatpun.

(Sloka 3.5)[21]

 

 “… Seseorang bahkan tidak dapat memelihara badan jasmaninya tanpa bekerja.”

 (Sloka 3.8)[22]

 

Dua ayat di atas menyatakan bahwa manusia pada hakikatnya perlu dan wajib bekerja untuk dapat memelihara jasmaninya. Maka hubungan manusia dengan kerja sangat erat; tidak terpisahkan.

Sementara itu, terkait dengan hasil kerja, perspektif Hinduisme memberikan tanggapan yang bertentangan dengan Marx; hasil kerja tidak boleh dimiliki. Berikut beberapa ayatnya:

“…, resi-resi yang mulia dan penyembah-penyembah membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan.”

(Sloka 2.51)[23]

 

“…, Orang yang ingin menikmati hasil dari pekerjaannya adalah orang pelit.”

(Sloka 2.49)[24]

 

Dengan demikian, Bhagavad-Gita tidak memperkenankan manusia untuk memiliki hasil kerjanya, sebab manusia yang memiliki dan menikmati hasil kerja dianggap terjerumus ke dalam dunia material yang penuh dengan kesengsaraan hidup. Kesengsaraan hidup yang dimaksudkan mencakup kelahiran, kematian, usia tua, dan penyakit. Selain itu, jika memiliki dan menikmati hasilnya, seorang manusia dapat dikatakan sebagai orang yang pelit. Orang yang pelit dianggap tidak dapat menggunakan harta kekayaan dengan baik, dan orang yang bernasib malang.

IV. Tanggapan Kritis

  1. Keterasingan dan Kepemilikan Pribadi

Marx menjelaskan bahwa keterasingan manusia adalah akibat langsung dari kepemilikan pribadi yang berkaitan dengan pembagian kerja dalam proses produksi.[25] Argumen ini seakan sesuai dengan pandangan masyarakat yang saat ini berasumsi bahwa kepemilikan pribadi mengakibatkan kesengsaraan rakyat mencuat.[26] Hal ini malah perlu dipertanyakan kembali karena menurut Universal Declaration of Human Rights, semua orang berhak memiliki lahan secara individu maupun bersama.[27] Dinyatakan pula dalam Undang-Undang Republik Indonesia[28] dan Peraturan Pemerintah[29] bahwa tanah dapat dimiliki secara perorangan, bersama, ataupun oleh badan hukum.

Memang betul bahwa dengan adanya kepemilikan pribadi, kelas pekerja dan pemilik terasing dari dirinya sendiri dan sesamanya. Tetapi apakah hanya kepemilikan pribadi yang menyebabkan keterasingan? Terlihat dalam kenyataan bahwa bukan hanya kepemilikan, tetapi faktor lain perlu dipertimbangkan.

Dalam pandangan Marx, saat manusia bekerja dalam sistem kepemilikan pribadi, akan terjadi pembagian kerja yang menimbulkan adanya kelas majikan dan buruh. Akan tetapi, di Nusa Penida ada industri rumah tangga yang memroduksi batako. Pekerjanya hanya terdiri dari ibu, bapak, dan dua anaknya. Sang bapak mengangkut pasir, si ibu menyaring pasir dari kerikil-kerikil kecil, dan kedua anaknya mencampur pasir dengan semen, dan mencetak batako. Dari fenomena ini, pembagian kerja terjadi, tetapi tidak ada munculnya kelas majikan dan buruh. Ibu dan bapak tidak merasa sebagai majikannya; anak tidak merasa menjadi buruh. Maka, perlu dipertanyakan kembali relevansi teori Marx dalam kasus seperti yang di atas.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan pula adalah: Apakah hakikat manusia hanya untuk bekerja secara bebas dan universal? Apakah manusia hanya akan terasing jika hakikatnya tidak terealisasikan? Manusia, seperti dijelaskan oleh Marx, memiliki hakikat untuk bekerja secara bebas dan universal. Hakikat ini harus terealisasi, jika tidak manusia akan menjadi terasing. Masyarakat Nusa Penida dalam pengamatan penulis, memiliki kebebasan dan universal. Mereka bebas untuk melakukan objektivitas atas alam, melakukan humanisasi pada alam hunian mereka. Tetapi mereka tetap tampak terasing. Terasing dari dirinya dan sekaligus terasing dari sesamanya.

Mengingat kembali hakikat manusia untuk bekerja secara bebas dan universal, masih perlu dipertanyakan apakah hakikat manusia hanya bekerja? Kenyataannya tidak, manusia juga perlu berkomunikasi. Salah satu media untuk berkomunikasi yang kerap kali dijumpai saat ini adalah, media sosial. Di satu sisi media soial membantu untuk menyebarkan informasi, tetapi pada saat yang bersamaan mengalienasi manusia. Hakikat manusia yang seharusnya bekerja dan berkomunikasi tidak terpenuhi. Manusia menjadi hanya berkomunikasi lewat media sosial. Misalnya, si A sibuk chatting (berkomunikasi) dengan ratusan, bahkan ribuan teman di Instagram atau Facebook. Padahal di dunia nyata hanya dua sampai lima orang yang berteman dengannya. Dengan A yang sibuk chatting, ia tidak bekerja ataupun berkarya sama sekali. Manusia terjebak di depan layar-layar yang menampilkan topik-topik selebritas, olahraga, dan terindoktrinasi.[30]

Dengan demikian, argumen Marx bahwa manusia teralienasi karena bekerja tanpa merealisasikan hakikatnya perlu dipertanyakan relevansinya; sebab hakikat manusia tidak hanya terbatas pada bekerja atau berkarya saja. Selain itu, pada keadaan tertentu justru manusia teralienasi karena tidak bekerja sama sekali—sehingga tidak dapat melakukan objektivitas.

Selain media sosial, ada asumsi bahwa pendidikan saat ini bertujuan untuk mempersiapkan manusia bekerja. Pendidikan diharapkan memperbesar peluang mendapatkan upah yang tinggi dalam bursa kerja. Ibu mengeluh karena anaknya tidak mau sekolah, “Ini, si Komang gak mau sekolah.” Jelas tidak mau sekolah karena sekolah bukan untuk objektivitas dan berkarya secara bebas dan universal, melainkan untuk diajarkan “dua tambah tiga sama dengan lima; bumi itu bulat; presiden pertama Indonesia adalah Ir. Soekarno” Bukankah dengan demikian, manusia belajar sesuatu secara terpaksa dan pada saat yang sama, ia mengingkari hakikatnya untuk bebas mempelajari apa saja dan universal dalam melakukan objektivitasnya? Saat manusia mengingkari hakikatnya, ia menjadi terasing dari dirinya sendiri, terasing pula ia dari sesamanya karena hakikat dan sifat sosial manusia adalah satu, jelas Marx. Maka, akan lebih masuk akal jika pendidikan diarahkan untuk mendorong kebebasan dan sifat universal yang dimiliki manusia, agar hasil objektivitasnya sesuai dengan imajinasinya.

Adapun konsep hidup manusia dalam Bhagavad-Gita yang memiliki kemiripan dengan konsep hidup manusia yang digagas oleh Karl Marx. Bagi Marx, secara hakiki seorang manusia bekerja secara bebas dan universal. Bebas dari kebutuhan fisiknya. Begitupun dalam Bhagavad-Gita, manusia boleh bekerja sebebas-bebasnya.

Namun di sisi lain, ada beberapa pandangan Bhagavad-Gita yang bertetangan dengan pandangan Marx. Bhagavad-Gita sloka 3.8 mengatakan bahwa seorang manusia bekerja demi kebutuhan fisiknya. Marx memandang bahwa manusia yang bekerja demi kebutuhan fisiknya saja menjadikan manusia seperti binatang.

Apa yang terjadi saat ini di Nusa Penida justru menunjukkan kontras dengan apa yang ditunjukkan dalam Bhagavad-Gita. Maka pantas ditanyakan: Jika Bhagavad-Gita berkata demikian, dan mayoritas penduduk Nusa Penida memeluk Hindu, mengapa penduduk Nusa Penida melanggar perintah agamanya? Apakah kepentingan ekonomi di atas ajaran agama?

Tampaknya pernyataan bahwa Hindu merupakan cara hidup tidaklah berlaku lagi di Nusa Penida. Perintah dari Bhagavad-Gita untuk tidak memiliki dan menikmati hasil kerja telah dilanggar. Lahan-lahan yang seharusnya milik Sri Krisna[31] dinyatakan milik pribadi. Hasil panen dari ladang jagung dan ubinya dipakai untuk kebutuhan pangan. Untuk mendapatkan uang, lahan-lahan dijual kepada pemilik-pemilik industri pariwisata. Padahal nafsu untuk memiliki dan menguasai barang-barang material dinyatakan  sebagai hal yang tidak baik oleh Bhagavad-Gita sloka 3.43.

 

  1. Ketika Nusa Penida tak Lagi Ajeg[32]

Andro Linklater, menuliskan bahwa manusia pada akhir 1400-an menganggap tanah sebagai identitas manusia dan tidak dapat dimiliki. Maksudnya, dari cara seorang manusia mengolah tanah, akan tampak kepribadiannya. Contohnya jika seorang manusia menanami bunga-bunga berwarna cerah, orang lain akan beranggapan bahwa si pengolah tanah adalah orang yang ceria. Tetapi jika gersang; tandus, orang lain akan beranggapan bahwa si pengolah tanah pemarah atau pemalas. Selain itu, untuk memiliki dan mengolah tanah juga membutuhkan kesepakatan dari banyak pihak (pemerintah, masyarakat sekitar, keluarga). Maka, kepemilikan tanah tidak pernah bersifat pribadi, tetapi umum karena dipengaruhi oleh banyak pihak.[33]

Tetapi ketika permintaan atas pakaian melonjak karena meningkatnya populasi dunia, Eropa sebagai pusat produksi kain pada awal 1500-an, mendapatkan pemasukan uang yang relatif besar bagi masyarakatnya. Uang yang didapatkan dipakai oleh masyarakat Eropa untuk membeli perabot dan menghiasi rumah. Kamar-kamar baru dibangun dalam rumah disertai dengan tempat tidur dan karpet baru, perabot-perabot dari perak dan lusinan sendok untuk makan.[34]

Tak sadar akan luasnya lahan yang masih tersisa, tanah di Eropa dibagikan semena-mena kepada rakyat tanpa biaya. Rakyat dengan senang hati menerima tanah, dan segera mengolahnya untuk peternakan dan pertanian pribadi. Pemerintah saat itu mengharapkan nilai tanah naik karena disuburkan dengan ternak milik rakyat, tetapi tanah-tanah justru dipagari, dibatasi agar jelas kepemilikannya. Inilah awal dari kepemilikan pribadi.[35]

Bisnis pada masa ini berkembang pesat. Salah satunya, tuan tanah bernama William Harrison, yang menyewakan peralatan dan menyediakan kredit bagi rakyat. Untuk mengurangi pengeluaran, rakyat mulai menghindar membayar pajak tanah, yang menimbulkan konflik antar tuan tanah dan rakyat miskin. Para tuan tanah merebut tanah dan menggusur rakyat miskin untuk kepentingan pribadinya. Rakyat miskin mengamuk dan menuntut agar pembatas tanah diruntuhkan. Tiba-tiba inflasi melanda, tanah-tanah dijual dengan harga yang sangat murah, dan diserbu oleh para keluarga-keluarga kaya.[36] Sehingga rakyat miskin semakin miskin dan orang kaya semakin kaya.

Pada awal masa kepemilikan pribadi, semua rakyat diuntungkan. Setiap keluarga bebas untuk mengolah tanah untuk beternak dan bertani dan keuntungannya untuk keluarga itu sendiri. Tetapi lama-kelamaan, kelas-kelas sosial mulai terbentuk. Semenjak ada tuan tanah yang menguasai area tanah yang luas, uang rakyat miskin terkuras untuk membayar pajak dan kredit. Ketidakadilan dan konflik antar sesama muncul. Rakyat miskin menuntut agar pembatas tanah diruntuhkan, tetapi diabaikan oleh tuan tanah dan pemerintah. Inilah mengapa kepemilikan pribadi tidak berhasil.

Sebagai solusi, kepemilikan bersama kembali diterapkan pada tahun 1620. Sebanyak 102 peziarah ditugaskan untuk berkerja bersama selama tujuh tahun.[37] Hal ini dilakukan atas asumsi bahwa tanpa kepemilikan, manusia akan lebih bahagia dan lebih bijak. Seperti kehidupan murid Yesus yang dikisahkan hidup bersama atas kepentingan dan kebutuhan yang sama.[38]

Kenyataanya, konsep kepemilikan bersama ini gagal, para pekerja malah menderita karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Sebagai contoh, saat sekelompok orang bekerja di ladang dan memutuskan kepemilikan bersama, akan ada satu orang yang lebih produktif daripada yang lainnya, karena ada yang lebih malas atau lebih pelan. Tetapi saat menerima upah, semua akan mendapatkan jumlah yang sama. Padahal ada yang bekerja lebih keras daripada yang lainnya. Oleh karena itu pada tahun 1623, diputuskan bahwa kepemilikan pribadi lebih baik karena setiap orang mendapat upah sebesar yang dikerjakannya.[39]

Hingga saat ini tampaknya konsep kepemilikan pribadi tidak akan dapat terlepas dari seorang manusia, tulis Linklater.[40] Kedepannya pada tahun 2050, Linklater memprediksi bahwa tanah akan dialihkan untuk kepentingan pangan. Dari prediksi ini tampak bahwa hukum kepemilikan pribadi bersifat paradoks.[41] Artinya, kepemilikan pribadi yang awalnya ditujukan untuk kepentingan pribadi malah digunakan untuk kepentingan umum (pangan).

Cuplikan sejarah dari Linklater menjelaskan bahwa awalnya seluruh rakyat Eropa pada 1500-an diuntungkan dengan tanah kepemilikan pribadi. Peternakan dan pertanian rakyat berkembang. Tetapi ketika tuan tanah mulai memanfaatkan kekuasaannya, rakyat miskin tergusur dan mengamuk. Rakyat miskin menuntut batas-batas dihancurkan, tetapi diabaikan oleh pemerintah yang dipengaruhi oleh tuan tanah saat itu.

Melihat kembali sejarah di atas, ada kemungkinan bagi Nusa Penida untuk mengalami hal yang sama. Pada awal hingga pertengahan 2016, investasi triliunan diterima oleh Nusa Penida dengan tangan terbuka.[42] Dengan tanah yang terjual untuk fasilitas pariwisata, masyarakat Nusa Penida terpaksa untuk beralih pekerjaan menjadi karyawan di hotel atau kuli bangunan untuk proyek pariwisata. Dari sinilah tampak kelas sosial di Nusa Penida akan terbagi, dan berdasarkan tulisan Linklater akan ada konflik antar penguasa dan buruh yang tertindas. Senada dengan Linklater, bagi Marx, saat kelas sosial terbentuk, hubungan eksploitasi dari kelas majikan terhadap kelas buruh akan terjadi.[43] Sehingga, dalam waktu dekat konflik sosial yang saat ini belum ada, akan segera ada di Nusa Penida.

Konflik sosial yang dimaksudkan adalah pertentangan kepentingan antara kelas majikan dan buruh. Kelas majikan mencari untung sebanyak-banyaknya, dan kelas buruh mencari upah setinggi tingginya. Pertentangan kepentingan ini akan menimbulkan ketegangan antar kelas yang berakhir dengan penindasan antar kelas. Selain konflik sosial, persoalan sosial lainnya akan ikut serta, antara lain:

 a. Ketidakadilan Sosial

Orang yang berkepemilikan atas banyak barang bernilai, dicap kaya di masyarakat.[44] Sementara, seorang dikatakan miskin secara subjektif jika rumahnya tidak ideal, bersifat sementara; dan dapat dikatakan miskin secara umum jika upah hariannya di bawah US$1.25.[45] Karena adanya kelas sosial ini, akses untuk pengobatan dan pendidikan menjadi terbatas bagi orang miskin.[46]

b. Keluarga: Perceraian

Perceraian sering terjadi karena wanita dianggap memiliki kemampuan finansial yang lebih baik dibanding laki-laki, hingga wanita menganggap dirinya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga; laki-laki tidak dibutuhkan.[47] Selain itu, laki-laki yang tampak memiliki kuasa dalam keluarga dapat melampiaskan amarah kepada keluarganya dengan seenaknya yang menyebabkan pertengkaran hingga perceraian.[48]

c. Kriminalitas

Seiring dengan berkembangnya Nusa Penida di bidang pariwisata, resiko terjadinya tindakan kriminalpun semakin meningkat. Banyaknya wisatawan yang berkunjung dengan perhiasan yang relatif mewah, masyarakat setempat pada umumnya terpancing untuk mencuri barang-barang milik wisatawan. Isu seperti pengeksploitasian tenaga anak tidak akan menjadi asing. Karena dengan bertambahnya fasilitas pariwisata, tenaga kerja yang dibutuhkan lebih banyak. Anak yang dapat dipekerjakan dengan upah yang lebih minim daripada dewasa menjadi alternatif yang baik bagi pebisnis. Selain itu, prostitusi anak dan dewasa dapat terjadi di Nusa Penida karena akses kepada penduduk relatif mudah.[49]

V. Imajinasi: Nusa Penida, Pulau Jagung dan Sayur

Katakan saja ini Sheena Penida. Ini bukan Nusa Penida hari ini, melainkan Nusa Penida esok. Tak ada masalah pangan, tindakan kriminal, dalam masyarakat meski industri pariwisata berkembang pesat. Tak banyak hotel mewah di sana, tak banyak pula vila pribadi. Wisatawan domestik dan mancanegara justru datang untuk mengalami dan menjalani langsung kehidupan penduduk lokal yang megah dalam kesederhanaannya. Wisatawan dengan jalan kaki menyusuri jalan desa yang sempit, disapa dan menyapa, bermain bersama belasan anak yang bermain dalam tawa riang. Mobil sebagai transportasi yang melayang di udara, mencegah kerusakan pada tanah di bawah. Setiap destinasi akan mempunyai mobil melayang sendiri. Layaknya bis, mobil ini mengangkut banyak orang sekaligus. Jam bepergian akan dijadwalkan, dan sekali-kali dapat berubah tergantung kebutuhan.

Soal kesehatan, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tempat tidur berbentuk kapsul akan tersedia di setiap rumah, mendiagnosis dan memulihkan dalam waktu yang singkat. Tidak akan ada yang tidak terobati.

Tak ada restoran bernuansa barat, namun penduduknya paham betul bagaimana menghidangkan makanan dalam tata cara barat yang ketat. Bahkan, wisatawan bisa langsung memanen dari kebun dan mengolah dengan sesuka hatinya. Semua bahan pangan akan bersih dari bakteri dan kuman. Saat menyiram tumbuhan, ramuan rahasia yang tercampur dalam air akan membunuh semua bakteri dan kuman. Wisatawan tidak perlu juga memasak, karena menu lokal pun diminati sedemikian rupa sebab cita rasanya mampu berkisah tentang indahnya dunia.

Istilah uang, transaksi, dan untung rugi tidak dikenal masyarakat. Uang rupiah; dollar;poundsterling hanya berlaku di gerbang masuk di tengah perairan Sheena Penida. Lewat dari gerbang itu, uang triliunan rupiahpun tidak ada artinya.

Di Sheena Penida, masyarakat tidak perlu berjual-beli. Kebutuhan primer masyarakat sudah dapat terpenuhi dari alam sekitarnya. Fasilitas tambahan seperti TV, akan tersedia dalam ukuran yang sangat besar. Setiap stasiun tv akan ditayangkan di layar bioskop dalam teater terpisah. Mau nonton RCTI? Silahkan menuju teater 3; Mau nonton SCTV? Silahkan menuju teater 5. Fasilitas seperti telepon pintar untuk media sosial tidak akan ada; untuk mencegah teralienasinya manusia. Wisatawan juga tidak diperbolehkan untuk membawa telepon pintar; hanya terbatas pada kamera.

Tanah yang semulanya tandus akan subur ditanami berbagai sayuran, buah dan bunga. Batu-batu karang yang menonjol di lahan kebun kini ditumbuhi berbagai anggrek. Kadar PH tanah akan diatur oleh ilmuwan agar menyesuaikan dengan tumbuhan.

Air bersih dengan jumlah yang tak terbatas tersuling dari air laut, selokan, bahkan kencing. Air terus berputar mengantarkan nutrisi ke akar-akar tanaman dalam susunan pipa PVC dan wadah-wadah tanaman sayur dan buah yang tumbuh subur dalam sistem akuaponik. Air yang sisa akan masuk ke dalam filter berisi pompa filtrasi yang juga dipenuhi ikan-ikan air tawar.

Udara tanpa polusi akan menjadi hal yang biasa di Sheena Penida. Filter udara berbentuk drone akan berterbangan mengelilingi pulau setiap hari selama 24 jam. Pulau ini akan dinetralkan dari semua udara dari luar pulau yang terkontaminasi.

Sekolah di sana menerapkan kurikulum yang berbeda. Kurikulum yang bertujuan untuk mendorong manusia melakukan objektivitas. Tidak akan ada pekerjaan rumah, ataupun ujian. Cukup menciptakan karya atau alat. Tidak ada batasan pada tema atau bentuk alat atau karya tersebut. Dipersilahkan berkarya secara bebas dan universal. Jika ingin menambah pengetahuan akan tersedia guru spesialis dalam setiap bidang ilmu yang dapat didatangi kapan saja.

Manusia Sheena Penida tidak akan mengalami alienasi. Alamnya yang tidak terbatas akan dijadikan bahan objektivitas bagi setiap manusia. Hakikatnya yang bebas dan universal akan terpenuhi. Tidak ada batasan bagi manusia untuk berkarya.

Akan tetapi, Marx memandang bahwa sebelum memasuki tahap kebebasan, alienasi dan pembagian kerja yang menyebabkan konflik sosial adalah hal yang tidak dapat dicegah oleh manusia. Oleh karena itu, Sheena Penida 0, adalah dunia dengan alienasi dan konflik sosial.

Dunia ini tak jauh beda dengan apa yang dapat dilihat di kota besar. Masyarakat yang terbagi menjadi kelas majikan dan buruh, pasti akan mengalami konflik. Akan tetapi, manusia di dunia ini akan mencoba menyelesaikan konfliknya, tanpa tindakan yang bersifat anarkis. Pertemuan dan diskusi antara perwakilan kedua kelas tersebut akan terlaksana secara umum; hingga keputusan yang dibuat tidak bersifat rahasia dan tidak dimanipulasi. Pemerintah tidak akan memiliki budaya untuk memihak kepada satu kelas, dan akan kebal terhadap tawaran sogokan dari kelas atas maupun bawah.

Alienasi akan tetap terjadi, tetapi dicegah dengan merubah sistem pendidikan menjadi berbasis proyek di mana anak tidak akan diberi ujian ataupun PR, ia hanya perlu membuat sebuah karya atau alat dari objek alam berupa apa saja. Sehingga dengan cara ini, hakikat manusia untuk bekerja secara bebas dan universal terpenuhi. Selanjutnya, untuk mencegah alienasi dari faktor media sosial, media sosial (Instagram; Facebook; Twitter) tidak akan dapat diakses.

Dengan demikian, masyarakat di dunia Sheena Penida 0 tidak akan hanya diam dan melewati alienasi dan konflik sosial, tetapi akan mencoba menyelesaikan konflik sosial dan mencegah alienasi.

VI. Simpulan

Alih fungsi lahan yang kian agresif memberikan harapan sekaligus kekuatiran. Harapan karena membuka peluang bisnis baru; mencari pekerjaan baru dalam bidang pariwisata, dan kekuatiran karena lahan untuk pangan masyarakat terkuras.

Perspektif Marx dapat dijadikan titik tolak untuk memandang fenomena yang ada. Meski sangat komprehensif, analisis Marx masih perlu dipertanyakan relevansinya pada era media sosial.

Ditemukan bahwa keterasingan manusia berakar pula pada teknologi (media sosial) dan pendidikan. Bagaimanapun, perlu ditemukan cara mengatasi keadaan. Dunia tanpa alienasi dan konflik sosial ditawarkan, dan tetap ada alternatif untuk terus bertumbuh bahkan di tengah dunia penuh alienasi dan konflik sosial.

 

VII. Proyek Impian

  1. Water Converter. Mengubah air laut dan limbah cair rumah tangga menjadi air bersih.
  2. Kapsul tidur. Tempat tidur yang mampu menetralisir kondisi tubuh manusia saat tidur di dalamnya.
  3. Mobil melayang. Transportasi ramah lingkungkan yang mencegah polusi udara. Mobil ini akan menggunakan matahari dan air sebagai sumber energinya.
  4. Drone filter udara. Drone yang menggantikan peran pohon dalam mengubah karbondioksida menjadi oksigen.
  5. Sistem akuaponik multifungsi. Sisa air yang digunakan untuk menyalurkan nutrisi ke akar tanaman akan dialihkan untuk air di kolam ikan air tawar.
  6. Kurikulum sekolah yang mendorong manusia untuk melakukan objektivitas.
  7. TV Bioskop. Televisi dengan konsep bioskop, di mana satu stasiun televisi ditayangkan di satu teater.
  8. Alat pengatur PH tanah. Alat ini akan berbentuk seperti remot televisi, tinggal tekan angka kadar PH yang diinginkan maka akan berubah dalam hitungan menit.

VIII. Referensi

A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada, Sri Srimad. Bhagavad-Gita Menurut Aslinya. 2006. Jakarta: Hanuman Sakti.

 

Ali, Matius. Filsafat India: Sebuah Pengantar Hinduisme & Buddhisme. 2010. Tangerang: Sanggar Luxor.

 

Badan Pusat Statistik. Kabupaten Klungkung Dalam Angka. 2016. Bali: BPS Kabupaten Klungkung.

 

Blundell, Jonathan. Cambridge IGCSE Sociology Coursebook. 2014. Cambridge: Cambridge University Press.

 

Konsupap, Sarayuth. Teori Kelas: Pertentangan Kelas dan Perubahan Sosial. 2011. Jakarta: Senat Mahasiswa STF Driyarkara.

 

Linklater, Andro. Owning The Earth. 2013. London: Bloomsbury.

 

Magnis-Suseno, Franz. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionsime. 2010. Jakarta: Gramedia.

 

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997. Pasal 31: Ayat 5.

 

Samson, Ejay. Socio-Culural Impacts of Tourism. http://www.slideshare.net/ejaysamson/sociocultural-impacts-of-tourism. Diakses pada 22 Februari 2016.

 

Umum, Miftahul. Investasi Baru, Rp1 Triliun Masuk ke Nusa Penida. http://bali.bisnis.com/read/20160825/16/61238/investasi-baru-rp1-triliun-masuk-ke-nusa-penida. Diakses pada 21 Januari 2016.

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960. Pasal 4: Ayat 1.

 

Universal Declarations of Human Rights. Artikel 17: Ayat 1.

 

Wawancara dengan Kakek.

 

Wawancara dengan Pak Saman.

 

Download Free WordPress Themes Themeforest and free plugins Codecanyon – addonswp.com.