Penilaian Terkadang Membutakan

By. I Gede Saman

 

Proses, penilaian, dan evaluasi merupakan hal yang selalu dan rutin dilakukan oleh setiap orang, baik disadari ataupun tidak. Penilaian ini selalu melibatkan rasa. Yang mana rasa ini terkadang membutakan mata. Terkadang saat kita menilai sesuatu berdasarkan penglihatan semata terkadang mengecoh kita. “Don’t judge the book from the cover”, sepertinya perumpamaan ini tepat untuk membuat mata kita terbuka. Saat menilai maupun saat melakukan evaluasi diri maupun orang lain.

Kejujuran hati nurani serta kevalidan data saat menilai seseorang sangat dibutuhkan. Apabila kita menilai orang lain begitu fasihnya, bagaimana dengan menilai diri? Apakah bisa sefasih menilai orang lain? Kalau bisa, itu sangat luar biasa. Karena ini akan membantu kita untuk memperbaiki diri untuk perbaikan hidup kita selanjutnya. Namun terkadang saking fasih dan sibuknya kita menilai orang lain, kita lupa menilai diri kita sendiri. Bak pepatah lama mengatakan “semut kecil diujung bukit terlihat jelas, gajah dipelupuk mata tak terlihat sama sekali”. Kebiasaan kitalah yang membuat semua ini terjadi. Karena terkadang peniliaian yang kita lakukan mampu membutakan diri sendiri dan orang lain apabila penilaian yang diberikan tidak objektif.

Sama halnya kita saya menilai setiap pekerjaan anak-anak saya, saya harus menggabungkan kevalidan data dan jawaban peserta didik untuk memastikan jawaban anak-anak saya benar. Namun terkadang kunci jawaban yang saya buat tidak sesuai dengan pandangan atau jawaban anak-anak yang sangat luar biasa. Disini saya harus mengevaluasi diri saya, bahwa jawaban untuk kata tanya mengapa dan bagaimana bisanya menimbulkan jawaban yang beragam dan membuka wawasan anak-anak saat menjawab setiap pertanyaan yang kita berikan.

Kebetulan minggu ini saya mendapat kesempatan melakukan penilaian pada mata pelajaran yang saya ajarkan untuk anak-anak dari kelas 1 sampai kelas 9. Mata pelajaran tersebut adalah agama Hindu. Dalam pelajaran agama Hindu anak-anak memiliki keterbukaan untuk mejawab setiap soal yang saya berikan. Pertanyaan yang saya berikan pun pertanyaan terbuka. Sehingga jawaban terbuka pun saya dapatkan. Sehingga dalam menyediakan kunci jawaban pun saya harus memberikan kunci jawaban yang terbuka juga.

Hal menarik yang harus kita ingat adalah penilaian yang kita berikan merupakan satu langkah untuk melakukan evaluasi diri dan perserta didik atau orang lain. Terkadang penilaian itu membuat kita sakit hati, terkadang membuat kita sedih. Namun kenyataannya, kita harus menerima setiap penilaian yang diberikan ke pada kita untuk evaluasi diri dan kebaikan kita kedepannya. Tanpa penilaian kita akan selalu merasa diri kita terbaik dan paling sempurna. Padahal kenyataannya tak seindah itu.