Pepatah lama mengatakan bahwa menjadi guru adalah untuk digugu lan ditiru, rupanya salah dipahami sebagai bentuk kepatuhan absolut yang harus dilakukan seorang murid kepada gurunya.

Dalam ilmu kependidikan, metode edukasi Montessori adalah salah satu metode pendidikan anak yang sudah cukup berumur – kurang lebih 100 tahun. Dalam waktu 100 tahun ini juga bisa dibilang bahwa wajah pendidikan sedikit mengalami perubahan – tatanan kelas, papan tulis, meja guru, dan lain sebagainya. Namun yang tidak disadari khalayak umum seperti saya ketika mengenyam pendidikan, adalah bahwa perubahan terjadi sangat cepat.

Perubahan diawali dengan tujuan diselenggarakannya pendidikan. Setiap era akan berganti, entah itu kebutuhan perang, peningkatan literasi, atau doktrin rezim tertentu. Adanya perubahan ini membuat tatanan edukasi semakin dinamis.

Montessori ada dengan gagasan bahwa setiap adak memiliki potensial, tidak ada istilah ‘terlahir sebagai kertas kosong’. Tugas seorang guru lah sebagai facilitator untuk membuka potensi tersebut. Gagasan lain yang digaung kan adalah bahwa anak sudah seharusnya mendapatkan pendidikan yang merdeka, bebas untuk memilih dan menjadi apapun yang mereka inginkan.

Tujuan pendidikan sebagai individu adalah representasi terbaik dari metode yang digagas oleh Maria Montessori pada waktu itu. Sedangkan instansi pendidikan – dalam hal ini guru, adalah individu yang lain. Mengupayakan kemerdekaan dalam edukasi rasanya masih belum wajar untuk dipikirkan.