Artikel Ilmiah oleh:

Sanditiya Kristian S.

Melawan Corona dengan Menjadi Bahagia

Tak terasa sudah hampir 1 tahun lamanya masyarakat Indonesia bergelut dengan virus yang telah merenggut jutaan nyawa di negeri ini. Terhitung sejak minggu ke-3 pada bulan Januari 2020 saat virus Corona masuk ke Indonesia menurut prediksi Tim pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), virus ini telah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Indoensia. Virus yang dikenal dengan sebutan Covid-19 ini membuat pemerintah Indonesia terpaksa menyiapkan serta menerapkan strategi baru untuk dapat mencegah masyarakatnya menjadi korban kejahatan virus ini. Salah satu cara yang efektif menurut Kemetrian Kesehatan Republik Indonesia adalah dengan tetap berada di dalam rumah dan semaksimal mungkin mengurangi aktivitas di luar rumah jika bersifat tidak mendesak. Banyak orang-orang yang mengurungkan niatnya untuk pergi berlibur demi meminimalisir terjangkitnya virus tersebut. Namun nampaknya, terlalu lama berada dalam rumah membuat banyak orang mulai merasakan bosan dan stres. Hasil survei yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) melalui swaperiksa yang dilakukan secara daring dan berfokus pada aspek psikologis, yakni cemas, depresi, dan trauma psikologis menunjukkan bahwa sebanyak 64,3 persen dari 1.522 responden mengalami cemas dan depresi akibat adanya pandemi Covid-19, sedangkan trauma psikologis dialami 80 persen dari semua responden yang melakukan swaperiksa. Gejala gangguan kesehatan mental yang di alami tidak selalu sama. Gejala depresi utamanya adalah gangguan tidur, kurang percaya diri, lelah tidak bertenaga, dan kehilangan minat. Selain itu gejala stres seperti merasa terus waspada, berhati-hati, berjaga-jaga disampaikan oleh responden. Bahkan beberapa responden mengaku mengalami gejala seperti mati rasa, ledakan kemarahan atau mudah kesal, sulit tidur, dan memiliki masalah konsentrasi. Hal ini membuktikan bahwa virus Covid-19 membawa dampak gangguan kesehtan mental yang cukup besar kepada masyarakat. Dan kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan fungsi imunitas tubuh.

Dilansir dari Medical News Today, penelitian yang dilakukan oleh para spesialis asal Pennsylvania State University menemukan bahwa suasana hati yang negatif dapat mengubah fungsi respons imun. Kondisi ini berkaitan erat dengan meningkatnya risiko peradangan saat seseorang merasakan stres atau kecemasan yang berlebih. Hasil penelitian ini bahkan telah dirangkum dalam jurnal Brain, Behavior, and Immunity. Lewat studi tersebut, nampak jelas bahwa individu yang dirundung suasana hati negatif dalam waktu lama cenderung memiliki risiko peradangan biomarker lebih tinggi akibat sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah. Sebaliknya, saat partisipan sedang memiliki suasana hati yang baik, hasil penelitian selalu positif dengan menurunnya tingkat peradangan dalam darah. Merujuk pada hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa menjadi bahagia dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh menjadi lebih optimal guna menangkal virus-virus yang akan menyerang tubuh seseorang.

Dikutip dari https://puspensos.kemsos.go.id/ menyebutkan bahwa sebuah penelitian yang dilakukan oleh Applied Psychology: Health and Well-Being pada tahun 2017 lalu yang meneliti efek dari “kesejahteraan subjektif” atau suatu ukuran bagaimana orang mengevaluasi kehidupan mereka sendiri pada berbagai aspek kesehatan fisik. Dari penelitian tersebut di dapatkan hasil kebahagiaan benar-benar dapat mempengaruhi kesehatan, kata penulis utama Edward Diener, profesor Psikologi Sosial di Universitas Utah, Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan orang yang bahagia cenderung lebih memperhatikan diri mereka sendiri dan memilih perilaku yang sehat, seperti berolahraga, makan dengan baik, dan cukup tidur, daripada perilaku yang tidak sehat. Selain itu, ada pula bukti jika kebahagiaan dapat memiliki efek menguntungkan pada sistem kardiovaskular dan kekebalan tubuh, memengaruhi tingkat hormon dan peradangan, serta mempercepat penyembuhan luka.

Bapak Syamsuddin, Ph.D selaku Kepala LRSLU Minaula Kendari menyatakan kondisi bahagia juga membantu tubuh dalam memperlancar peredaran darah. Rasa bahagia memberikan energi positif berupa optimisme untuk melakukan semua hal. Optimisme juga membantu dalam memperlancar aliran darah keseluruh bagian tubuh terutama ke jantung dan otak. Jika suplai darah ke otak memadai, ini sangat membantu dalam konsentrasi, berpikir dan menganalisis. Kondisi ini tentu sangat berguna dalam memecahkan berbagai tugas dan pekerjaan. Sementara aliran darah yang cukup ke jantung akan mencegah terjadinya sumbatan yang dapat menjadi resiko terjadinya penyakit jantung dan stroke.

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa memang kebahagiaan penting untuk diterapkan karena dengan menjadi bahagia maka imunitas tubuh seseorang akan lebih kuat. Dengan kuatnya sistem imunitas dapat memimalisir terpaparnya seseorang dari virus- virus diluar sana termasuk virus Covid-19. Maka dari itu menjadi bahagia dapat menjadi salah satu pencegah seseorang terpapar virus Covid-19 tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Prasetyo, B. A. (2019, 1 10). Begini Cara Emosi Pengaruhi Sistem Imun Anda. Retrieved from Klik Dokter: https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3621179/begini-cara-emosi-pengaruhi-sistem-imun-anda

Souisa, H. (2020, 8 31). Penjelasan Hubungan Kebahagiaan dan Kesehatan di Indonesia Dengan Melihat Kembali Indeks Kebahagiaan di Tahun 2017. Retrieved from abc.net.au: https://www.abc.net.au/indonesian/2020-08-31/hubungan-kebahagiaan-dan-imunitas-lewat-nonton-di-bioskop/12607522

Syamsuddin, P. (2020, 6 30). Kebahagiaan Tingkatkan Imunitas Guna Tangkal Corona. Retrieved from puspensos.kemsos.go.id: https://puspensos.kemsos.go.id/kebahagiaan-tingkatkan-imunitas-guna-tangkal-corona

Unkwon. (2020, 5 26). Kapan Sebenarnya Corona Pertama Kali Masuk RI? Retrieved from Detik.com: https://news.detik.com/berita/d-4991485/kapan-sebenarnya-corona-pertama-kali-masuk-ri