Pendidikan di Ujung Tanduk

Jatung dari sebuah negara adalah seberapa pintar dan cerdasnya generasi yang dibentuk oleh bangsa tersebut. Untuk menciptakan anak-anak atau generasai yang pintar dan cerdas, dibutuhkan pendidikan yang utuh. Pendidikan yang utuh adalah pendidikan yang berjalan sesuai dengan kaidah yang normal sesuai dengan ajaran Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan Indonesia. Menurut Ki Hadjar, Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat (Dewantara II , 1994).

Oleh karena itu, kemerdekaan menjadi isu kritis dalam pendidikan karena menyangkut usaha untuk memerdekakan hidup lahir dan hidup batin manusia agar manusia lebih menyadari kewajiban dan haknya sebagai bagian dari masyarakat sehingga tidak tergantung kepada orang lain dan bisa bersandar atas kekuatan sendiri. Namun, disisi yang lain, kemerdekaan itu bersifat tiga macam yaitu: (1) berdiri sendiri, (2) tidak tergantung kepada orang lain, (3) dan dapat mengatur dirinya sendiri. Dengan demikian, kemerdekaan itu berarti manusia sebagai mahkluk individu dan sekaligus sosial dapat mengatur ketertiban hidupnya dalam berhubungan dengan kemerdekaan orang lain ( Dewantara I, 2004). Dalam hal ini, Ki Hadjar membedakan antara Pengajaran dan Pendidikan. Pendidikan adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

Namun kenyataan berkata berbanding berbalik. Pendidikan sekarang jauh dari ketiga filsafat ini. Bahkan sudah hampir setahun pendidikan kita berjalan tanpa tatap muka secara utuh. Sekolah negeri dan swasta melakukan hal yang sama. Mungkin diswasta lebih kreatif sedikit namun dinegeri ya begitulah. Siswa diberikan tugas oleh guru lewat jejaring whatsapp (WA). Selanjutnya anak-anak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dengan semangat. Diawal semua tampak baik-baik saja. Guru berkunjung kerumah perserta didik seminggu sekali. Saat berkunjung guru kemungkinan membahas tugas yang diberikan atau diskusi dengan peserta didik. Waktu berkunjung tidak lebih dari dua jam dalam seminggu. Saat berkunjung sang guru harus upload kegiatannya di media sosial milik sang guru semisal di FB atau instagram.

Ini berlangsung dalam waktu lebih dari setahun. Hari pertama, proses ini asyik, minggu pertama berjalan dengan lancar. Tapi apa yang terjadi pada minggu-minggu selanjutnya? Hanya guru dan siswa yang tau cerita selanjutnya. Pemahaman peserta didik akan materi pembelajaran atau indikator di kelasnya seakan-akan tidak penting. Yang terpenting tanggal gajian sang guru tetap dapat gaji penuh tak kurang serupiah pun. Yang terpenting lagi, sang guru sudah datang kerumah siswa berkunjung dan mengambil foto lalu mengaploadnya di FB atau instagram sang guru. Tapi, apakah sesuai dengan kenerja dari guru bersangkutan? Tidak ada yang tau.

Pandemi covid 19 seperti buah simalakama bagi dunia pendidikan kita. Si guru dapat haknya dengan penuh, si siswa mendapat haknya sekedarnya saja. Orang tua sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, si anak sibuk dengan hp nya. Apa yang dilakukan oleh si siswa? Tidak ada yang tau hanya siswa bersangkutan yang mengetahuinya.

Saat orang tua seharusnya sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, saat itu juga tugas seorang guru digantikan oleh orang tua. Apakah gaji guru masuk ke rekening orang tua? Tidak oh tidak. Tetaplah tanggal gajian, gaji penuh masuk kerekening sang guru. Apakah guru salah? Tidak, guru sudah menjalankan tugasnya dengan maksimal sesuai dengan tugas dan instruksi dari dinas pendidikan. Apakah siswa salah? Tidak juga, karena keadaan yang membuat semua ini terjadi. Lalu siapa yang salah dalam hal ini? Tidak ada yang mengetahuinya. Karena semuanya pasti akan menyalahkan pandemi covid 19 sebagai biang kerok dari kejadian ini.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang akan terjadi dengan pendidikan terhadap generasi penerus bangsa ini? Juga tidak ada yang tau. Sadarkah kita kalau pendidikan kita sekarang berada diujung tanduk? Bayangkan, anak-anak kelas 1 tidak pernah bertemu dengan gurunya, tiba-tiba dapat nilai dan menerima rapor K13, kerenkan. Siswa kelas 2 sampai kelas 6 SD mendapat raport K13 dengan nilai lengkap baik nilai kognitif maupun nilai afektifnya. Ini tidak hanya SD, jenjang pendidikan di atas juga hampir sama kisahnya, yaitu menarik dan penuh pilu. Pertanyaannya, nilainya dari mana? Nilai kognitif dari mana, nilai prosesnya dari mana? Lalu nilai tersebut milik siapa? Si anak atau orang tua? Pertanyaan ini pasti bisa dijawab oleh sang guru yang menerima gaji penuh dan sangat berwibawa. Tapi demi gaji utuh dan kehormatan, sang guru tetap diam didalam ketenangan dan keindahan hidup. Sebenarnya sang guru tau, kalau hal yang terjadi selama ini adalah pembodohan terselebung dan terstruktur. Tapi demi isi perut ribadi dan keluarga, hal tersebut tetaplah berjalan dengan sepertinya baik-baik saja. Solusinya apa? Pertama sang guru harus sadar, bahwa perbuatan ini tidak benar. Sehingga berani melakukan perubahan baik dalam setrategi pembelajaran dan lain sebagainya. Sehingga gaji yang diperoleh bisa bermanfaat dan halal.

Pihak pemerintah jangan berjalan ditengah-tengah tapi harus berani mengambil salah satu sisi dari pendidikan ini. Maju atau hancur untuk selamanya. Pemerintahlah yang seharusnya berani mengambil keputusan. Demi generasi bangsa yang lebih baik. Kalau ini dibiarkan terus-menerus dalam ketakutan yang tak beralasan, maka satu generasi kita akan hancur. Indonesia akan kembali melahirkan generasi bangsa yang buta dalam pendidikan. Seperti dimasa penjajahan dulu. 350 tahun dibuat buta dan bodoh oleh penjajah. Sekarang kembali lagi hal yang sama terulang. Pelan tapi pasti. Nikmatilah dan tontonlah hasil karyamu yang indah ini duhai para pemegang kepentingan serta para pemain wayang dibalik dalang dengan lakon akibat pandemi covid 19.

Ini berbanding terbalik ketika anak-anakku mulai kesekolah. Setelah lebih dari 1 tahun dirumah. Kebahagiaan terasa ketika anak-anakku sudah mulai masuk kesekolah. Meskipun hanya beberapa jam. Saat pulang sekolah banyak cerita yang aku dengar dari bibir anakku. Meskipun hanya bertemu dengan dua tiga teman serta dengan gurunya. Senyum berbinar dari sang anak membuat diriku merasa bahagia. Kehidupanku terasa kembali indah. Karena kebahagiaan anak adalah yang utama. Meskipun dimasa pendemi, marilah kita cari cara untuk membahagiakan anak-anak kita dan membuat mereka cerdas serta tetap dalam tatanan kesehatan. Cara sederhana misalnya, sekolah tetap jalan asal protokol kesehatan diikuti dengan benar. Tempat duduk bisa diatur sesua dengan jarak aman. Sekolah bisa digilir, misal kelas 1, 2 dan 3 hari senin, rabu, jumat. Kelas 4, 5 dan 6 jam sekolah misalnya di hari selasa, kamis dan sabtu. Dari pada tidak sama sekali, indah kalau masih ada cara yang lebih baik untuk kognitif dan afektif anak. Dari pada kita dirumah saja tanpa berkarya dan tanpa belajar. Apa artinya hidup ini kalau tanpa karya dan pendidikan? Apa arti hidup ini kalu hidup tanpa aktivitas atau kerja?

Pada akhirnya kita harus beradaptasi dengan merubah cara serta pola hidup kita. Merubah pola pikir kita terhadap berbagai hal. Pada kondisi saat ini kita harus berani bersahabat dengan virus covid 19. Tidak mungkin kita berperang dengan virus, karena pada intinya kita selalu bersama dengan virus. Jadi bersahabatlah dan berdamailah dengan virus yang ada saat ini. Sehingga kedepan kita sudah terbiasa dengan virus dan berbagai tantangan yang akan selalu berubah.